Dunia konservasi dan kegiatan alam bebas sering kali dicitrakan sebagai dunia yang maskulin, keras, dan menantang fisik. Sebagai perempuan yang memilih jalan ini—terutama melalui divisi Advokasi di Wanapalhi—saya sering dihadapkan pada pertanyaan yang tidak terucapkan:
"Apakah dia di sini hanya untuk eksistensi, atau benar-benar untuk kontribusi?"
Hari ini, saya ingin bicara tentang sesuatu yang jauh lebih mahal dari sekadar pengakuan visual: Integritas.
1. Jebakan Validasi di Era Digital
Kita hidup di era di mana "terlihat peduli" sering kali dianggap lebih penting daripada "benar-benar peduli". Bagi perempuan di dunia petualangan, ada tekanan tambahan untuk selalu tampil sesuai standar tertentu. Namun, jika motivasi kita masuk ke hutan atau mendaki gunung hanya untuk mencari validasi—baik itu berupa pujian fisik maupun jumlah likes—maka kita sedang merendahkan nilai perjalanan itu sendiri.
Validasi dari luar itu fana dan bisa hilang kapan saja. Namun, integritas—apa yang kita lakukan saat tidak ada kamera yang menyorot, bagaimana kita konsisten menjaga sampah kita, dan bagaimana kita tetap belajar meskipun medannya sulit—adalah pondasi yang tidak akan goyah.
2. Kehormatan Melalui Karya, Bukan Persepsi
Ada sebuah miskonsepsi bahwa kehormatan seorang perempuan pendaki terletak pada bagaimana ia dipandang oleh lawan jenisnya. Saya sangat tidak setuju.
Kehormatan kita sebagai aktivis lingkungan terletak pada kapasitas intelektual dan kontribusi nyata.
Apakah kita memahami isu lahan gambut yang kita advokasikan?
Apakah kita mampu bekerja sama dalam tim tanpa menjatuhkan martabat orang lain?
Seberapa besar dedikasi kita dalam menyusun program kerja yang berdampak bagi masyarakat luas?
Ketika kita fokus pada karya, maka komentar-komentar negatif atau pandangan rendah dari orang lain akan menjadi tidak relevan. Kita tidak perlu sibuk membela diri dengan kata-kata; biarkan hasil kerja kita yang berbicara.
3. Mengedukasi Lingkungan yang Aman
Edukasi dalam artikel ini bukan hanya untuk sesama perempuan, tapi untuk seluruh pegiat alam. Lingkungan konservasi yang sehat adalah lingkungan yang:
- Menghargai Skill di atas Gender: Memberi ruang yang sama bagi siapa saja untuk memimpin tim atau menyusun draf kebijakan lingkungan.
- Stop Objektifikasi: Alam adalah ruang suci untuk belajar, bukan panggung untuk menilai fisik seseorang. Pikiran yang jernih adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang konservasionis.
4. Menjadi Versi Terbaik di Jalur Advokasi
Bagi saya, menjadi perempuan di dunia konservasi berarti berani mengambil tanggung jawab. Baik itu saat mengikuti workshop metodologi GRK yang menguras otak, maupun saat harus turun ke lapangan melakukan aksi nyata. Kita tidak butuh "dimaklumi", kita hanya butuh ruang yang adil untuk membuktikan integritas kita.
Kesimpulan
Hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang setuju dengan kita, tapi tentang seberapa jujur kita pada prinsip yang kita pegang. Jangan biarkan standar sempit orang lain mendefinisikan siapa kamu. Tetaplah mendaki, tetaplah mengabdi, dan biarkan integritasmu menjadi mercusuar yang menuntun langkahmu di tengah rimba maupun di tengah hiruk-pikuk dunia kampus.

0 comments:
Posting Komentar